TENTANG NORMA DAN BUDI PEKERTI WONG JAWA

Masyarakat Jawa secara terang- terangan tidak mengenal kasta.

Namun tetap saja terdapat Pemilahan struktur sosial tersebut meski tidak tertulis.

Hal itu dilakukan mereka sendiri secara diam-diam, sehingga muncul hubungan sosial yang sedikit “kaku”. Karena harus memperhatikan norma-norma tertentu yang kita kenal sebagai “Budi Pekerti Jawa”.

Struktur sosial dalam masyarakat Jawa ini muncul karena pada awalnya, Jawa adalah sebuah kerajaan.

Hierarki tertinggi ada pada raja, kemudian keluarganya, dan para pejabatnya.

Di kenal beberapa stratifikasi :

Priyayi dan Wong Lumrah

Priyayi adalah kelompok masyarakat ningrat, yang memiliki hubungan darah atau trah tertentu, yang ditandai dengan gelar kebangsawanan.

Pada perkembangannya, golongan priyayi bukan dari trah bangsawan saja, terdapat pejabat/pegawai pemerintah yang mempunyai pekerjaan halus dan bagus.

Sedangkan wong lumrah adalah mereka yang tidak punya kedudukan penting, atau mereka yang mengabdi kepada priyayi.

Mereka mendapat penghidupan dari priyayi.

Oleh sebab itu ada jarak antara priyayi dan wong lumrah yang didasari pada system hormat.

System inilah yang membungkus budi pekerti Jawa yang amat kompleks .

Wong Gedhe dan Wong Cilik

Wong gedhe merupakan sebutan untuk orang- orang yang dipandang memiliki kelebihan, dapat berupa jabatan, kekayaan, dan keahlian khusus yang tidak dimiliki wong cilik.

Hingga seakan-akan
ada hubungan yang mempertimbangkan system hormat antara keduanya.

Wong gedhe sebagai pihak terhormat, dan wong cilik harus menghormat.

Pinisepuh dan Kawula Mudha

Pinisepuh adalah orang-orang Jawa yang dianggap tua (dituakan) dimasyarakat.

Mereka dihormati dan duduk dalam posisi tertentu dan tinggi.

Sedang kawula muda, selalu duduk di bagian bawah.

Posisi duduk semacam ini telah dimengerti dan diterima masyarakat tanpa protes. Karena masing-masing pihak menggunakan rasa Jawa sehingga saling ambil posisi.

Santri dan Abangan

Santri adalah orang Jawa yang tekun menjalankan
ibadah agamanya.

Sedangkan abangan adalah
kebalikan santri.

Hubungan kedua golongan ini
sebenarnya baik-baik saja, namun ada jarak
tertentu, dan nampak bahwa posisi santri di atas abangan .

Sedulur dan Wong liya


Sedulur
adalah komunitas yang masih ada hubungan kekerabatan .

Dalam masyarakat Jawa, ‘budi pekerti’ terkait erat dengan tata krama. “budi pekerti” merupakan ‘roh’ tata krama pergaulan, dapat dikatakan bahwa tata krama adalah tulang penggerak budi pekerti.

Tata krama dan sopan santun adalah kebiasaan yang disepakati dalam lingkungan pergaulan.

Kebiasaan ini telah berlangsung berulang-ulang, dan akhirnya melembaga menjadi suatu etika pergaulan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s